Teologi dari segi etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu theilogia. Yang terdiri dari kata theos yang berarti Tuhan atau Dewa, dan logos yang artinya ilmu. Sehingga teologi adalah pengetahuan ketuhanan. Teologi Islam disebut juga ‘ilm al-kalam. Kalam adalah kata-kata.

Faktor-faktor yang mempengaruhi lahirnya Ilmu Kalam, diantaranya ada dua macam yaitu:

a. Faktor-faktor dari dalam

  1. Al-Qur’an menyinggung pula golongan-golongan yang mempunyai kepercayaan yang tidak benar, antara lain: a. Golongan yang mengingkari agama dan adanya tuhan dan mereka mengatakna bahwa yang menyebabkan kebinasaan hanyalah waktu saja. b. Golongan syirik c. Golongan kafir d. Golongan orang munafik
  2. Adanya nas-nas yang kelihatannya saling bertentangan, sehingga datang orang-orang yang mengumpulkan ayat tersebut dan memfilsafatinya.

b. Faktor-faktor lain yang datang dari luar

  1. Banyak diantara pemeluk Islam yang mulanya beragama Yahudi, Masehi, dan lain-lain, bahkan diantara mereka ada yang pernah menjadi ulama.
  2. Golongan Islam yang dulu, terutama golongan Mu’tazilah, memusatkan perhatiannya untuk penyiaran Islam, dengan cara mengetahui dengan sebaik-baiknya aqidah-aqidah mereka.
  3. Sebagai kelanjutan dari sebab tersebut, Mutakallimin hendak mengimbangi lawan-lawannya yang menggunakan filsafat, maka mereka terpaksa mempelajari logika dan filsafat.

Ruang lingkup pembahasan Ilmu Kalam meliputi pokok-pokok:

  1. Hal-hal yang berhubungan dengan Allah SWT atau yang sering disebut dengan istilah Mabda. Dalam bagian ini termasuk Tuhan dan hubungannya dengan alam semesta dan manusia.
  2. Hal yang berhubungan dengan utusan Allah sebagai perantara antara manusia dengan Allah atau disebut pula wasilah meliputi: Malaikat, Nabi/Rasul, dan kitab-kitab suci.
  3. Hal-hal yang berhubungan dengan sam’iyyat (sesuatu yang diperoleh lewat sumber yang meyakinkan, yakni al-qur’an dan Hadist, misalnya tentang alam kubur, azab kubur, bangkit di padang mahsyar, alam akhirat, arsh, lauhil Mahfud, dan lain-lain).

Terjadinya persoalan-persolan dalam lapangan politik inilah yang akhirnya membawa kepada timbulnya persoalan persoalan Kalam. Timbulah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir. Persoalan ini telah menimbulkan tiga aliran teologi dalam islam, antaralain:

a. Aliran Khawarij, mengatakan bahwa orang berdosa besar adalah kafir, dalam arti telah keluar dari Islam, atau tegasnya murtad dan oleh karena itu wajib dibunuh.

b. Aliran Murji’ah, menegaskan bahwa orang yang berbuat dosa besar masih tetap mukmin dan bukan kafir. Adapun soal dosa yang dilakukannya, hal itu terserah kepada Allah untuk mengampuni atau menghukumnya.

c. Aliran Mu’tazilah, yang tidak menerima kedua pendapat diatas. Bagi mereka orang yang berdosa besar bukan kafir, tetapi bukan pula mukmim.

Sumber-sumber Ilmu Kalam :

  1. Al-Qur’an
  2. Hadits
  3. Pemikiran manusia
  4. Insting

Akibat adanya perbedaan kerangka berfikir dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kalam:

  1. Aliran Antroposentris Aliran ini menganggap bahwa hakekat persoalan realitas transenden bersifat intraksomos dan impersonal.
  2. Teolog Teosentris Aliran ini menganggap bakwa hakekat trasenden bersifat suprakosmos, personal dan ketuhanan.
  3. Aliran Konvergensi Sintesis Aliran ini menganggap hakekat realitas transenden bersifat supra sekaligus intrakosmos personal dan impersonal.
  4. Aliran Nihilis Aliran ini menganggap bahwa hakekat realitas transendental hanyalah ilusi.

ALIRAN-ALIRAN

A. Khawarij

Khawarij adalah suatu kelompok/aliran pengikut Ali Bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan, karena ketidak sepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim) dalam perang siffin dengan kelompok pemberontak muawiyah perihal persengketaan khalifah.

B. Murji’ah

Aliran ini muncul sebagai reaksi atas sikap yang tida mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagaimana hal yang dilakukan oleh aliran Khawarij.

C. Aliran Jabariyah

Secara bahasa Jabariyah berasal dari kata “jabara” yang artinya memaksa. Sedangkan secara istilah Jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah.

D. Aliran Qodariyah

Secara etimologi berasal dari bahasa Arab, yaitu qadar yang artinya kemampuan dan kekuatan. Secara istilah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diinvensi oleh Allah.

E. Mu’tazilah

Mu’tazilah adalah suatu kelompok dari Qodariyah yang berselisih pendapat dengan umat Islam yang lain dalam permasalahan hukum pelaku dosa besar.

F. Syi’ah

Syi’ah adalah salah satu aliran atau madzab dalam islam.

PEMIKIRAN KALAM AHLUSUNNAH DAN ULAMA MODERN

Golongan ahlusunnah disebut juga ahlusunnah wal jamaah atau sunni. Golongan ini adalah golongan yang terdorong oleh keinginan mempertahankan sunnah Rasulullah. Pencetusan golongan ini oleh Asy’ari tidak lepas dari beberapa hal yang melatar belakanginya.

Menurut keterangan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa ketokohan al-Asy’ari dalam aliran kalam Mu’tazilah ternyata sangat terbatas, hanya sekitar 40 tahun saja. Dan akhirnya berbalik 180 derajat, menolak serta menyerang aliran Mu’tazilah. Bersamaan dengan itu beliau mencetuskan aliran baru yaitu Sunni (ahlusunnah wal jamaah).

Pemikiran teologi modern salah satunya adalah rasional. Hrasional ini bermaksud tidak hanya mengandalkan al-Qur’an dan as-Sunnah tetapi juga mengandalkan akal fikiran yang rasional. Karena dengan akal, manusia dapat mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Allah.

TEOLOGI KONTEMPORER

Aliran teologi kontempirer, teologi pembebasan, dan teologi lingkungan bukanlah sebuah aliran teologi negatih yang ditakuti menentang dunia.

Secara praktis, teologi klasik walaupun berdasarkan atas penafsiran terhadap wahyu Allah dan Sunnah berhubungan dengan keTuhanan, keimanan, takdir dan lain-lain, ternyata pandangan ini tidak bisa member motivasi tindakan dalam menghadapi kenyataan kehidupan konkret manusia.

Sebab, format atau penyesunan teologi tidak didasarkan atas kesadaran murni dan nilai-nilai perbuatan manusia. Karena itu harus ada rekonstruksi terhadap teologi Islam.

Adapun menurut Hasan Hanafi, untuk melakukan rekonstruksi teologi sekurang-kurangnya dilator belakangi oleh tiga hal, antara lain:

  1. Kebutuhan akan adanya sebuah ideology yang jelas ditengah-tengah pertarungan global antara berbagai ideologi
  2. Pentingnya teologi baru ini bukan semata pada sisi teoritisnya, melainkan juga terletak kepada kepentingan praktis untuk secara nyata mewujudkan ideology sebagai gerakan dalam sejarah.
  3. Kepentingan teologi yang bersifat praksis, yaitu secara nyata diwujudkan dalam realitas melalui realitas Tauhid dalam dunia Islam.

Karakteristik Teologi Klasik

  1. Tekstualis
  2. Pembahasan yang vertical
  3. Belum membahas realitas sosial
  4. Kental dengan nuansa konsep ketuhanan

Karakteristik Teologi Kontemporer

  1. Bersifat Antropo Centris
  2. Integrasi Teologi dan Filsafat
  3. Berparadigma kritis
  4. Berprinsip perkembangbiakan dan apa saja boleh

Tokoh-tokoh pada masa teologi kontemporer :

  1. Ismail Al-Faruqi
  2. Hasan Hanafi
  3. H.M. Rasyidi
  4. Harun Nasution

TEOSENTRIS DAN ANTROPOSENTRIS

A. Teosentris

Aliran teosentris menganggap bahwa hakekat realitas transenden bersifat suprakosmos, personal dan ketuhanan, aliran teosentris menganggap daya yang menjadi potensi perbuatan baik atau jahat bisa datang sewaktu-waktu dari Tuhan.

B. Antroposentris

Aliran antroposentris menganggap bahwa hakekat realitas transenden bersifat intrakosmos dan impersonal. Ia berhubungan erat dengan masyarakat kosmos baik yang natural maupun yang supra natural dalam arti unsur-unsurnya.

Doktin-doktrin teologi Islam, antara lain:

a. Kebebasan dalam berkehendak (free will)
b. Melihat Allah
c. Tuhan dan sifat-sifat-Nya
d. Akal dan wahyu dan criteria baik dan buruk
e. Qadimnya al-Qur’an
f. Keadilan Tuhan
g. Kedudukan orang berdosa

Sembunyikan komentarTambahkan komentar
MENU